Laman

Minggu, 06 Januari 2019

Cinta Kepada Allah Menurut Para Sufi

Cinta Kepada Allah Menurut Para Sufi

Harits Al-Muhasibi mengatakan, "Cinta itu rasa kecenderunganmu kepada sesuatu secara total, lalu engkau lebih mementingkan cinta itu daripada dirimu, jiwamu atau hartamu. Kemudian, kesetiaanmu padanya, baik ketika berada di tempat sunyi atau terbuka. Lalu, pada saatnya, ia juga bisa memberitahu kepadamu tentang keteledoran cinta."

Beberapa sufi lain menyebutkan; Cinta juga laksana api dalam hati yang dapat membakar apa saja selain yang dicintai. Cinta itu mencurahkan segala kemampuan, sedangkan kekasih itu boleh berbuat apa saja yang dia mau.

Ahmad An-Nuri mengatakan, "Cinta itu membuka tabir dan membuka semua rahasia."

Junaid Al-Baghdadi menyebutkan "Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya tanpa berharap mendapatkan sesuatu. Cinta itu kegelisahan dalam hati karena rasa jatuh cinta pada kekasih."

Rasulullah Saw bersabda;

"Hubbuka lisyaiin ya'ma wa yashummu." (Cintamu pada sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli) (HR. Ahmad)

JAGALAH LIDAH DAN HATIMU, JANGANLAH SUKA MENCELA DAN MENGHINA

JAGALAH LIDAH DAN HATIMU, JANGANLAH SUKA MENCELA DAN MENGHINA

Berkata Sayyidina Umar bin Abd Aziz : "Kami sempat hidup bersama para salaf, dan tidaklah mereka melihat bahawa ibadah itu adalah pada puasa dan tidak juga pada sholat. Namun ibadah itu adalah menahan diri dari menjatuhkan kehormatan manusia. Kerana orang yang melakukan sholat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang, andai ia tidak menjaga lidahnya maka ia pasti akan celaka di hari kiamat".

Berkata al Imam Ghazali : "Perbuatan mengumpat itu adalah petir yang memusnahkan perbuatan-perbuatan yang taat. Orang yg mengumpat itu tak ubah seperti orang yang memasang 'manjanik' (alat pelontar ketika perang), lalu dilontarnya kebaikan-kebaikan yang ia buat ke timur dan barat, ke kiri dan ke kanan".

Berkata as Syirazi : Aku telah berjaga malam bersama ayahku, dan orang2 sekeliling kami semuanya tidur. Lalu aku berkata: "Tidaklah dari mereka ini yg bangun walau untuk solat 2 rakaat!".  Lalu ayahku berkata : "Kalau kamu tidur adalah lebih baik dari terjerumusnya kamu di dalam menghina manusia".

Ketahuilah boleh jadi kamu dalam kalangan orang-orang yang sholat bahkan sangat khusyu di dalam sholatmu, namun apabila datang di hari akhirat kamu adalah seorang yg kosong tidak punya apa-apa.

Boleh jadi kamu pernah menginfaq separuh dari harta yg kamu miliki, bahkan melakukan lebih dari itu, namun apabila datang di hari akhirat kamu adalah seorang yang kosong tidak memiliki apa-apa.

Boleh jadi kamu adalah orang-orang yg sentiasa berpuasa di siang hari, menghidupkan malam hari, dan berjuang/berjihad menegak agama di sepanjang hidupmu dengan penuh keikhlasan, namun apabila datang di hari akhirat kamu adalah seorang yang kosong seakan-akan tidak pernah berbuat apa-apa kebaikan !

Sebenarnya perkara ini, banyak dari kita sudah mengetahuinya. Namun sebahagian dari kita, tak kira orang biasa atau pemimpin atau ahli politik, atau lebih-lebih lagi para ustadz ustadz yang lebih tahu hukum hukum agama, masih banyak lagi yang gemar mengotorkan bibir-bibir mereka dengan kata-kata buruk & penghinaan, merendahkan, mencaci, membuka aib, walaupun atas tujuan untuk memberi teguran & nasihat. Yakni seakan2 tidak pernah takut & terkesan dengan kesudahan buruk yg bakal menanti orang-orang yang gemar berkata-kata dengan kalam buruk untuk memperendahkan orang lain, menghina orang lain, membunuh karakter orang lain, menikam kehormatan orang lain, dan seumpamanya.

Wahai umat Islam:

Ketika mana kamu melihat manusia manusia pendosa, janganlah sesekali kamu merasa kamu adalah lebih mulia dari mereka.

Ketahuilah olehmu bahawa diri mereka itu sebenarnya adalah sedang di uji, dan kamu pula telah terselamat kan kerana kasih & rahmat Allah padamu.

Maka janganlah kamu lupa mendoakan ke atas mereka supaya diberikan hidayah, dan ke atas dirimu juga supaya kekal diberikan keteguhan.

Janganlah pula kamu mendoakan mereka dengan keburukan, terlebih melaknat, Mungkin kamu menyangka tidak pernah berbuat demikian. Namun kalimat-kalimat yang keji yg sering dilontarkan kpd mereka yg senantiasa menempel di bibirmu itu, sebenarnya adalah satu doa juga yg secara tidak sadar bukan saja semakin menghitamkan hati mereka, bahkan semakin menghitamkan hatimu juga.

Sebagaimana  disabdakan oleh Nabi saw dalam sebuah hadis Qudsi; "Wahai manusia! Sebagaimana engkau menyakiti, engkau akan disakiti. Sebagaimana engkau berbuat, engkau akan diperlakukan”

Rasulullah saw juga  bersabda: “siapa yang menghina seseorang karena dosa yang pernah dilakukannya, maka ia tidak akan mati sebelum melakukan dosa tersebut.”

(HR. Tirmizi).

Bencilah sikap & kejahatannya. Dan janganlah benci diri & zatnya. Karena seburuk-buruk seorang muslim itu sekalipun, di dalam dirinya masih ada sesuatu yg sangat bernilai & amat berharga, iaitu kalimah 'Lailahaillah Muhammad Rasulullah'.

Kamis, 03 Januari 2019

KEUTAMAAN MASUK THORIQOH

KEUTAMAAN MASUK THORIQOH

Samahatul Imam Imam Sholahuddin At Tijani Al Hasani Ra Berkata ;

Apabila kamu tidak  masuk pada suatu Thoriqoh, maka semua amalmu akan di naekan kepada Allah swt sesuai kemampun mu

Sedangkan jika kamu mencintai seorang syekh (wali Allah)  yang memiliki keagunan nan kemulyaan disi Allah Swt, maka semua amalmu kelak di angkat sesuai dengan ke agungan orang yang kau cintai itu.

Kelak pada hari kiamat engkau akan dikumpulkan dengan derajat  orang (wali Allah) yang engkau cintai itu.

Rasulullah Saw pernah bersabda :

Seseorang itu kelak akan bersama orang yang kau di cintai nya."

Maksudnya, Jadikan semua amalan  yang engkau lakukan sebagai perwakilan dari amalan nya  (waliyullah) sayyidi syekh ini.

Syekh Umar Al Futi Dalam Kitab Ar Rimah nya berkata :

الشيخ الواصل حبل اللّٰه في أرضه  فكن تعلق به وصل
واما غير الواصل فمن تعلق به انقطع

Syekh Washil adalah ibarat Tali Allah di bumi,  barang siapa bergantung kepadanya, niscaya akan wasil juga.

Adapun Syekh yg tidak Washil, siapa yg bergantung kepadanya akan terputus.

Syekh Umar Al Futi RA (dalam Kitab Ar Rimah)

Dalam Di Dalam Kitab Bughyatul Mustafid Di katakan

ﻭﺭﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻮﺍﺭﻑ ﺃﻳﻀﺎ ﺑﺴﻨﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺳﺘﺎﺫ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻟﻘﺸﻴﺮﻱ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﻌﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻄﻤﺴﺘﺎﻧﻲ ﻳﻘﻮﻝ : " ﺍﺻﺤﺒﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻄﻴﻘﻮﺍ ﻓﺎﺻﺤﺒﻮﺍ ﻣﻊ ﻣﻦ ﻳﺼﺤﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﻮﺻﻠﻜﻢ ﺑﺮﻛﺔ ﺻﺤﺒﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺻﺤﺒﺔ ﺍﻟﻠﻪ ".

"Bersamalah Dengan Allah, Jikalau Belum Mampu Maka Bersamalah Dengan Orang Yang Senantiasa Bersama Dengan Allah, Agar Keberkahan Bersamannya Mengantarkanmu Bisa Bersama Dengan Allah".