Laman

Senin, 23 Juli 2018

Pesan Mulia Dari Saydina Ali Bin Abi Thalib

Pesan Mulia Dari Saydina Ali Bin Abi Thalib
.
1. Janganlah engkau tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya. Sebab barangkali dosanya telah diampuni. Dan janganlah engkau merasa aman akan dirimu karena suatu dosa kecil. Sebab, barangkali engkau akan diazab karena dosa kecilmu itu.
.
2. Jauhilah olehmu posisi mengemukakan alasan. Sebab,ada kalanya alasan justru menetapkan kesalahan terhadap orang yang berdalih itu, meskipun dia bersih dari dosa itu.
.
3. Barangsiapa yang telah kehilangan keutamaan kejujuran dalam pembicaraannya, maka dia telah kehilangan akhlaknya yang termulia.
.
4. Buruk sangka melayukan hati, mencurigai orang yang terpercaya, menjadikan asing kawan yang ramah, dan merusak kecintaan saudara.
.
5. Janganlah engkau merasa senang dengan banyaknya teman, selama mereka bukan orang yang baik-baik. Sebab, kedudukan teman seperti api,sedikitnya adalah kenikmatan,sedangkan banyaknya adalah kebinasaan.
.
6. Sebaik-baik teman, jika engkau tidak membutuhkannya, dia akan bertambah dalam kecintaannya kepadamu, dan jika engkau membutuhkannya,dia tidak akan berkurang sedikitpun kecintaannya kepadamu.
.
7. Ada kalanya perang terjadi karena satu kalimat,dan ada kalanya pula cinta tertanam karena pandangan sekilas.
.
8. Perbuatan buruk yang menjadikanmu bersedih karenanya lebih baik di sisi Allah dari pada perbutan baik yang membuatmu bangga Siapa yang memandang dirinya buruk maka dia adalah orang yang baik. Dan siapa yang memandang dirinya baik, dia adalah orang yang buruk.

Diam adalah Emas

Diam adalah Emas

Jika berbicara adalah perak, maka diam adalah emas: diam lebih baik daripada berbicara.

Diam tidak akan membuat kalian jatuh ke dalam masalah, berbeda dengan berbicara yang dapat menjatuhkan kalian ke dalam dosa, membuat kalian mengutuk dan mengejek orang lain. Jadi, sesuai dengan ajaran yang diwarisi dari Nabi (saw) dan ajaran Sufi, seseorang tidak berhak untuk melihat kelakuan buruk orang lain.

Setiap orang harus melihat pada "apa yang ada di bawah turbannya," yaitu melihat dirinya sendiri. Kalian tidak berhak untuk ini itu kepada orang lain, atau mengatakan bahwa 'kau harus melakukan ini', 'kau harus melakukan itu', 'kau salah', 'kau benar'. Itu bukan urusan kalian. Itu menjadi urusan kalian apabila kalian sudah sempurna.

Ketika kalian sudah membersihkan diri kalian, kalian dapat mengoreksi orang lain. "Ketika aku sudah sempurna, ketika aku telah menjadi teladan yang baik, pada saat itu aku akan diizinkan oleh mursyidku untuk memberi nasihat atau memperbaiki orang lain. Ketika aku masih kotor dan berdosa, aku harus membersihkan diriku dulu sebelum membersihkan orang lain."

Dewasa ini banyak orang yang berpikir bahwa mereka sudah sempurna dan berhak melihat kesalahan orang lain sehingga mereka dapat mengatakan ini itu kepada orang-orang itu, atau mengatakan 'engkau kafir', 'kau tidak beriman', atau 'kau melakukan bid'ah,' sementara mereka sendiri melupakan segala sesuatu tentang mereka sendiri. Ini adalah suatu kesalahan besar. Ini adalah penyakit yang tersebar di mana-mana sekarang, di Timur, Barat, Utara, dan Selatan.

Tidak ada obat bagi penyakit ini selain dengan kedatangan Imam Mahdi (as).

Setiap orang harus waspada bahwa mereka harus membersihkan dirinya sendiri dulu. Mawlana Syekh Nazim pernah berkata bahwa kita bagaikan lalat.

Lalat itu terbang ke sana ke mari mencari kotoran dan mereka pergi ke sana. Di mana pun ada kotoran atau sesuatu yang bau, kalian akan mendapati lalat.

Dan kita ini adalah lalat, karena kita masih mengejar kotoran dari saudara-saudari kita. Kita tidak mengejar kotoran kita sendiri.

Kita berpikir bahwa kita sudah bersih, dan tidak melihat kotoran kita sendiri. Setelah mendapat kotoran, lalat akan pergi ke tempat yang bersih untuk meletakkan kotorannya di sana.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Rabu, 18 Juli 2018

DUNIA SELAMANYA AKAN SILIH BERGANTI

DUNIA SELAMANYA AKAN SILIH BERGANTI

Sayyidi As Syekh Al Qutb Al Maktum Abul 'Abbas Ahmad bin Muhammad At Tijany rodliyallah 'anhu berkata :

Barang siapa yang dicoba di antara kalian dengan satu Musibah atau ia tertimpa hal yangg buruk sebagai bencana, maka  hendaklah ia Bersabar menunggu kelapangan dari Allah swt, karena setiap bencana pasti ada akhirnya...Setiap kesusahan pasti memiliki kelapangan...

Jika ia mengalami keadaan yang sempit dan sulit, maka hendaklah ia terus memohon dengan merendahkan diri sampai ia mencapai puncak angan angan nya  dengan memperoleh kelapangan dari Allah swt...

Janganlah kalian gelisah karena musibah dan bencana,karena sesungguhnya Allah swt tidak menurunkan hamba hamba di dunia kecuali untuk menjalankan hukum hukum  dan takdir takdir  tuhan dari perkara yang  jiwa jiwa merasa sempit di karenakan adanya bala' dan bencana dlm hukum dan takdir takdir tersebut....

Dan hamba tidak  akan menemukan sesuatu yang bisa memalingkan dari  hal ini...dan seorang hamba tidak akan bisa terus menerus senang dan terlepas dari semua bala' di dunia...

Bahkan seorang yang berakal harus tahu bahwa keadaan dunia selamanya akan terus silih berganti antara waktu susah dan senang,baik dan buruk serta gembira dan sedih...tidak seorangpun yang tinggal didunia bisa keluar dari ketentuan ini...

Jika musibah telah menimpa dan bencana membuat hidup sempit, maka hendaklah ia tahu bahwa hal itu memiliki waktu dimana ia akan berakhir dan di iringi dengan kesenangan dan kegembiraan...

Karena sesungguhnya orang  yg memahami bahwa hal ini dari Allah swt dalam mengatur dunia-NYA,ia akan menghadapi setiap musibah dengan  penuh kesabaran dan ridlo dengan ketentuan serta syukur yang sempurna atas segala nikmat...

(JAWAHIRUL MA'ANI)

Senin, 16 Juli 2018

DAHSYATNYA SHALAWAT

DAHSYATNYA SHALAWAT

MALAIKAT MEMINTAKAN AMPUN UNTUK ORANG YANG MEMBACA SHALAWAT SAMPAI HARI KIAMAT.

Dinukil dari Kitab : Mukasyafatul Qulub.

جاء في الخبر عن النبي صلي الله عليه وسلم انه قال : ان الله تعالي خلق ملكا له جناح في المشرق وجناح في المغرب ورأسه تحت العرش ورجلاه تحت الارض السابعة وعليه بعدد خلق الله تعالي ريش , فاذا صلي رجل او امرأة من امتي علي , امره الله تعالي ان ينغمس في بحر من نور تحت العرش فيه , فينغمس فيه , ثم يخرج وينفض جناحه فيقطر من كل ريشة قطرة فيه , فيخلق الله تعالي من كل قطرة ملكا , يستغفر له الي يوم القيامة .

Telah datang kabar dari Nabi Saw, sesungguhnya Beliau Bersabda :
”Sesungguhnya Allah Swt Menciptakan Malaikat yang mempunyai satu Sayap di Timur dan satu sayap di Barat, Kepalanya di bawah Arsy, kedua Kakinya berada di bawah Bumi ketujuh dan Malaikat ini mempunyai bulu sebanyak hitungan Makhluk-Nya Allah Swt.

Ketika salah seorang dari Ummatku baik laki-laki maupun perempuan membaca Shalawat kepadaku, maka Allah Swt Memerintahkan kepada Malaikat tersebut untuk menceburkan diri kedalam Lautan dari Cahaya yang berada di bawah ‘Arsy.

Lalu Malaikat menceburkan diri kedalamnya kemudian keluar dan mengkibas-kibaskan Sayapnya, maka meneteslah dari setiap Bulu satu tetes.

Kemudian Allah Swt menciptakan dari setiap tetesnya Satu Malaikat yang memintakan ampun untuk orang yang membaca Shalawat tadi sampai Hari Kiamat".

قال بعض الحكماء سلامة الجسد , قلة الطعام , وسلامة الروح في قلة الآثام , وسلامة الدين في الصلاة علي خير الانام

Sebagian Ulama’ Ahli Hikmah berkata :
”Selamatnya Jasad dalam sedikitnya makan, selamatnya Ruh dalam sedikitnya dosa dan selamatnya Agama dalam Bershalawat kepada Makhluk terbaik (Nabi Muhammad Saw)".

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبَارِك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعلى آله وصحبه اَجمَعِين

Minggu, 15 Juli 2018

USIR HAWA NAFSU DARI KALBUMU

USIR HAWA NAFSU DARI KALBUMU

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:

“Keluarkan dirimu dari nafsumu dan jauhilah ia! Lepaskan segala kepemilikanmu dan serahkan semua pada Allah. Jadilah gerbang di pintu kalbumu. Patuhilah perintah-perintah-Nya untuk memasukkan orang-orang yang memang diperintahkan dan diizinkan masuk. Patuhi pula larangan-larangan-Nya untuk mengusir orang-orang yang diperintahkan-Nya untuk kau usir. Jauhi dari pintu kalbumu!

Jangan masukkan hawa nafsu ke dalam kalbumu setelah ia terusir darinya.

Pengusiran hawa nafsu dari kalbu adalah dengan menentangnya dan menolak mengikutinya dari segala kondisi. Sedangkan, memasukkannya ke dalam kalbu adalah dengan menuruti kehendaknya dan menyetujuinya.

Janganlah engkau berkehendak selain dengan Kehendak Allah Azza wa Jalla. Kehendak yang kauinginkan selain itu adalah belantara kebodohan yang akan mengantarkanmu pada malapetaka dan kebinasaanmu, juga kejatuhanmu di mata-Nya dan keterjauhanmu dari-Nya.

Maka dari itu, jagalah selalu perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Pasrahkan selalu dirimu kepada-Nya dalam segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Jangan pernah sekutukan Dia dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Karena itu, janganlah terlalu berambisi tinggi, menginginkan kesenangan dan bersyahwat besar agar dirimu tak menjadi orang yang musyrik.
Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Allah,” (QS Al-Kahfi [18]: 110).

Syirik bukan hanya terbatas pada penyembahan berhala saja, namun termasuk juga tindak kesyirikan adalah menurutkan hawa nafsumu, memilih sesuatu selain-Nya berupa dunia seisinya, dan segala sesuatu selain-Nya.

Jika engkau terhanyut dengan segala sesuatu selain-Nya, maka berarti engkau telah menyekutukan-Nya.
Maka, waspaadalah dan jangan terlena, takutlah selalu dan jangan merasa diri aman, telitilah selalu dan jangan lalai, niscaya engkau akan merasa tenang.”

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

Sabtu, 14 Juli 2018

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah SAW

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah SAW

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.   

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).