Laman

Sabtu, 18 Februari 2017

ENAM NASIHAT YAHYA BIN MU’ADZ AR-RAZI

ENAM NASIHAT YAHYA BIN MU’ADZ AR-RAZI

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata:

1. “Ilmu itu pembimbing amal.
2. Pemahaman itu wadahnya ilmu.
3. Akal itu penuntun kepada kebaikan.
4. Hawa nafsu itu kendaraan dosa.
5. Harta itu pakaian orang-orang yang takabbur.
6. Dunia itu pasarnya akhirat.”

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَلَالِ حَاسَبَهُ اللهُ وَمِنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَرَامِ عَذَّبَهُ اللهُ

“Barang siapa mengambil dunia dengan cara yang halal, maka Allah pasti akan menghisabnya. Barang siapa mengambil dunia dengan cara yang haram, maka Allah pasti akan menyiksanya.” (HR. Hakim)

Rasulullah SAW juga bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذِهِ الدُّنْيَا دَارُ الْتِوَاءٍ لَا دَارُ اسْتِوَاءٍ وَمَنْزِلِ تَرَحٍ لَا مَنْزِلِ فَرَحٍ فَمَنْ عَرَفَهَا لَمْ يَفْرَحْ لِرَخَاءٍ وَلَمْ يَحْزَنْ لِشِدَّةٍ أَلَا وَإِنَّ اللهَ خَلَقَ الدُّنْيَا دَارَ بَلْوَى وَالْآخِرَةَ دَارَ عُقْبَى فَجَعَلَ بَلْوَى الدُّنْيَا لِثَوَابِ الآخِرَةِ وَثَوَابَ الآخِرَةِ مِنْ بَلْوَى الدُّنْيَا عِوَضًا فَيَأْخُذَ لِيُعْطِىَ وَيَبْتَلِىَ لِيَجْزِىَ فَاحْذَرُوْا حَلَاوَةَ رِضَاعِهَا لِمِرَارَةِ فِطَامِهَا وَاهْجُرُوْا لَذِيْذَ عَاجِلِهَا لِكُرْبَةِ آجِلِهَا وَلَا تَسْعَوْا فِى عُمْرَانِ دَاٍر قَدْ قَضَى اللهُ خَرَابَهَا وَلَا تُوَاصِلُوْهَا وَقَدْ أَرَادَ مِنْكُمْ اجْتِنَابَهَا فَتَكُوْنُوْا لِسُخْطِهِ مُتَعَرِّضِيْنَ وَلِعُقُوْبَتِهِ مُسْتَحِقَّيْنَ

“Wahai manusia, dunia ini adalah tempat yang terjal, bukan tempat yang rata. Dunia ini tempat kesusahan, bukan tempat untuk bersenang-senang. Maka barang siapa benar-benar mengetahui dunia, tentu ia tidak akan gembira dengan kesenangannya dan tidak akan bersedih dengan kesusahannya.

Ketahuilah, Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat ujian, sedangkan akhirat merupakan tempat kebaikan (bagi orang yang bertakwa).

Allah menjadikan bencana dunia sebagai sarana untuk meraih pahala akhirat sebagai ganti dari bencana dunia (bila sabar menghadapinya). Dia mengambil (nikmat duniawi dari seseorang) dengan maksud untuk memberinya (ganti di akhirat) dan memberinya cobaan dengan maksud untuk memberinya pahala. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap manisnya dunia, sebab terputus darinya terasa pahit; jauhilah kelezatannya yang sesaat, sebab kesedihannya terasa lama; dan janganlah engkau terlalu memakmurkan dunia yang telah Allah tetapkan kesirnaannya.

Janganlah terlalu bergantung kepada dunia, sebab Allah telah menghendaki engkau untuk menjauhinya.

Jika engkau tetap melakukannya (bergantung kepada dunia), maka engkau termasuk mereka yang akan mendapat murka-Nya dan berhak mendapat siksa-Nya.” (HR. Dailami)

--Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad--

Jumat, 17 Februari 2017

LIMA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT

LIMA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT

‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. mengatakan:

خَمْسٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ سَعَدٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَوَّلُهَا أَنْ يَذْكُرَ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسَوْلُ اللهِ وَقْتًا بَعْدَ وَقْتٍ وَ إِذَا ابْتُلِيَ بِبَلِيَّةٍ قَالَ إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ وَ لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمِ وَ إِذَا اُعْطِيَنِعْمَةً قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ شُكْرًا لِلنِّعْمَةِ وَإِذَا ابْتَدَأَ فِي شَيْءٍ قَالَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِوَ إِذَا أَفْرَطَ مِنْهُ ذَنْبًا قَالَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

"Orang yang memiliki lima perkara berikut ini akan bahagia di dunia dan di akhirat, yaitu:

1) Banyak-banyak mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah.’ (Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah);

2) Setiap kali ditimpa musibah mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilahi raji’uun, wa laa haula wa laan quwwata illa billlahil ‘Aliyyil ‘Azhiim (Sesungguhnya kami ini milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali, tiada daya  dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung);

3) Ketika menerima nikmat dari Allah mengucapkan: ‘Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.’ (segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta Alam), sebagai bentuk syukur (lisan);

4) Ketika memulai suatu pekerjaan mengucapkan "bismillahirrahmanirrahim"( Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

5) Setiap melakukan dosa, ia mengucap: ‘Astaghfriullahal ‘azhiim, wa atuubu ilah.’ (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya).”

Berkaitan dengan perkara pertama, Rasulullah SAW bersabda:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبَّ إِلَى اللِه وَلَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Perbanyaklah kalian berdzikir kepada Allah swt dalam segala keadaan, karena sesungguhnya tidak ada amal yang lebih dicintai oleh Allah dan lebih menyelamatkan seseorang dari semua keburukan dunia dan akhirat daripada berdzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Sharshari)

Berkaitan dengan perkara kedua, Rasulullah SAW bersabda :
لَا تُكْثِرُوْا الْكَلَامَبِغَيْرِ  ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ قَسْوَةُ الْقَلْبِ وَ إِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِى
“Janganlah kalian banyak bicara selain berdzikir kepada Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara selain berdzikir dapat menyebabkan hati keras, padahal manusia yang jauh dari nikmat Allah adalah orang yang memiliki hati yang keras.” (HR. al-Tirmidzi)

Berkaitan dengan perkara ketiga, Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهَأَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ
“Ucapan yang paling disenangi oleh Allah ada empat, yaitu; subhanallah, al-hamdulillaah, laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar. Tidak masalah bagimu untuk memulai dari lafazh yang mana dalam mengucapkannya.” (HR. Muslim dan Nasa’I) 

قُوْلُوْا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَ قُوْلُوْاسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَ قُوْلُوْا تَبَارَكَ اللهُ فَإِنَّهُنَّ خَمْسٌ لَايَعْدِلُهُنَّ شَيْءٌ
“Ucapkanlah ‘laa ilaaha illallah’ dan ‘Allahu akbar’; ucapkanlah ‘subhaanallah’ dab ‘al-hamdulillah’; dan ucapkanlah ‘tabaarakallah.’ Sebab semua ucapan itu merupakan lima perkara yang tidak ada perkara lain yang bisa menyamainya.” (HR. Ibnu Sharshari)

Berkaitan dengan perkara keempat, Rasulullah SAW  bersabda:
كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِحَمْدِ اللهِ فَهُوَ أَقْطَعُ
“Setiap perbuatan baik yang di dalamnya tidak dimulai dengan pujian kepada Allah, maka perbuatan tersebut terputus (dari rahmat Allah).” (HR. Ibnu Hibban)
كُلَّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ
“Setiap perbuatan baik yang di dalamnya tidak dimulai dengan bacaan basmalah, maka perbuatan terputus (dari rahmat Allah).” (HR. Abu Dawud)

Berkaitan dengan perkara kelima, Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَ دَوَائِكُمْ إِنَّ دَاءَكُمْ الذُّنُوْبُ وَ دَوَائَكُمْ الْاِسْتِغْفَارُ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian mengenai penyakit kaluann dan obatnya untuk kalian?” bahwasanya penyakit kalian adalah berbuat dosam sedangkan obatnya adalah beristighfar.” (HR. ad-Dailami)

مَنْ لَزِمَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَ رَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa selalu membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan untuk dirinya jalan keluar dari semua kesulitan, menjadikan kegembiraan dari semua kesusahan, dan akan member rezeki kepadanya dari jalan yang tak diduga-duga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud,dan Ibnu Majah)

عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ الْاِسْتِغْفَارُ فَأَكْثِرُوْا مِنْهُمَا فَإِنَّ إِبْلِيْسَ قَالَ أَهْلَكَتْ النَّاسُ بِالذُّنُوْبِ وَ أَهْلَكُوْنِيْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ الْاِسْتِغْفَارُ فَلَمَّا رَأِيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ فَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُوْنَ
“Hendaklah kalian banyak mengucapkan ‘laa ilaaha illallah dan beristighfar, sebab iblis berkata: ‘Aku membinasakan manusia dengan merayunya untuk berbuat dosa, namun mereka membinasakanku dengan kalimat laa ilaaha illallah dan beristighfar. Ketika aku melihat yang seperti itu, maka aku akan membinasakan mereka dengam merayunya untuk mengikuti hawa nafsu mereka yang dengan begitu mereka menyangka bahwa mereka dalam petunjuk.” (HR. Ahmad dan Abu Ya’la)

Al-Faqih Abu Laits r.a. berkata: “Barang siapa memelihara tujuh perkara, maka ia akan menjadi orang yang mulia di sisi Allah dan di hadapan para malaikat; Allah akan mengampuni dosanya meski banyaknya seperti buih lautan; ia akan merasakan nikmatnya melaksanakan ketaatan; dan hidup-matinya akan berada dalam kebaikan. Ketujuh perkara itu adalah

1) Membaca basmallah setiap akan melakukan sesuatu;

2) Membaca hamdalah setiap kali selesai mengerjakan sesuatu;

3) Membaca istighfar setiap kali melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat;

4) Mengucapkan insya Allah setiap kali berjanji untuk melakukan sesuatu;

5) Mengucapkan laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim setiap kali menemukan sesuatu yang tidak disenangi;

6) Mengucapakan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun setiap kali tertimpa musibah; 

7) Banyak-banyak membaca laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah, baik siang hari maupun malam hari.”

---Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad--

Jumat, 10 Februari 2017

MANUSIA TERBAGI 2 KELOMPOK

MANUSIA TERBAGI 2 KELOMPOK

Manusia terbagi ke dalam dua kelompok.

Ada yang menjadi pekerja Allah, mereka adalah Menyembah NYA berdasarkan kebajikan dan ke Takwa,an, mereka membutuhkan Zaman terbaik dan kekuasan AL Haqq, karena dari sanalah mereka mendapat bantuan.

Kelompok ke dua adalah AHLUL YAKIN,  Mereka menyembah AL HAQQ berdasarkan Tauhid melalui penyingkapan Hijab,  tanpa melalui Asbab, mereka tidak memedulikan datang dan pergi nya Zaman .  Pergi nya zaman tidak memudarat kan mereka.

Rasulullah SAW berkata; 

Ada Hamba Allah yang di karuniai Rahmat -NYA dan di hidup kan dalam Kekuatan.

Berbagai fitnah datang silih berganti menimpa mereka bagaikan penggalan penggalan Malam yang gelap.  Namun semua itu tidak membahayakan atau mempengaruhi mereka..