Laman

Jumat, 14 September 2018

BERHIJRAH MASA KINI?

BERHIJRAH MASA KINI?

(HIJRAH KE NABI ATAU KE ABU JAHAL?)

Jika penulis ditanya mungkinkah kita berhijrah saat ini?

Jawabannya, mungkin saja. Asal mau. Dan mengerti hakekat hijrah saat ini.

Secara bahasa, hijrah adalah at-tarku (meninggalkan) dan Al-Bu'du (menjauh).

Secara istilah, banyak difinisi ulama mengenai makna hijrah. Intinya, sebagaimana pendapat imam Ibnu Qayyum, hijrah itu ada dua macam: hijrah raga dan hijrah hati.

Hijrah raga adalah pindah dari Makkah menuju Madinah. Sedangkan hijrah hati adalah pindah menuju Allah dan Rasulullah.

Hijrah raga sudah tidak ada lagi setelah Fathu Makkah, sebagaimana sabda Nabi:

{لا هجرة بعد الفتح}

Adapun hijrah hati, tentu selalu ada dan terbuka bagi siapa saja yang berkehendak menuju Allah dan Rasulullah.

Untuk bahasan "menuju Allah" tidak perlu diutarakan disini. Selain butuh kajian yang mendalam, hijrah menuju Allah kiranya cukup melalui upaya seseorang hijrah menuju Rasulullah. Bukankah tidak ada jalan menuju Allah tanpa melalui Rasulullah?! Untuk itu, upaya seseorang menuju Rasulullah itu sudah wujud usaha hamba menuju Rabb Allah Azza wajalla.

Lantas, bagaimana cara menuju Rasulullah?

Pertama dan utama yang harus diinsafi oleh siapa saja yang ingin berhijrah menuju Rasulullah adalah berkeyakinan bahwa beliau SAW selalu hidup. Dan memang, Rasulullah selalu hidup di hati para kekasihnya. Rasulullah tidak pernah mati.

Benarlah apa kata samahah Al Imam Solahuddin At Tijani Ra:

مات رسول الله، الا في قلوب اامحبين، فهو صلى الله عليه وسلم حي لا يموت

"Rasulullah telah mati. Kecuali di dalam hati para pencintanya. Di hati mereka, beliau SAW selalu hidup. Tidak pernah mati"

Dengan penjelasan ini, maka seorang yang mengaku telah berhijrah, ciri utamanya dia akan semakin banyak bersolawat kepada Rasulullah. Semakin mencintai majelis-majelis solawatan. Semakin sering bertawassul kepada Nabi. Dia juga akan memberi penghormatan dan memuliakan acara maulid Nabi. Dan begitu seterusnya.

Bukan sebaliknya, mengaku telah berhijrah, tapi justru membid'ahkan solawatan, mencemooh bacaan Burdah, menyangsikan tawassul kepada Nabi dan menistakan jamaah majlis dzikir berjamaah, meremehkan Ahli Dzikir Dan Ahli Sholawat serta meremehkan para pengamal Thoriqoh

Jika ada yang mengaku telah berhijrah, tapi berkelakuan sebagaimana keterangan di atas, mungkin perlu dipertanyakan: "Kamu hijrah kamana? Hijrah ke Rasulullah atau ke Abu Jahal dan Abu Lahab yang sukanya mencemooh risalah Nabi Muhammad SAW?