Laman

Jumat, 12 Juli 2019

HADITS KEHANCURAN MUSLIMIN KARENA PERPECAHAN



HADITS KEHANCURAN MUSLIMIN KARENA PERPECAHAN


Dari Tsauban radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai apa yang telah dinampakkan untukku. Sku diberi dua harta simpanan: Merah dan putih. San sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar Dia tidak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri sehingga menyerang perkumpulan mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh dan Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengeepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” (HR. Muslim no. 2889).

Dari Sa’ad radhiallahu anhu dia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dari tempat yang tinggi hingga saat beliau melintasi masjid Bani Mu’awiah, beliau masuk lalu shalat dua rakaat, dan kami shalat bersama beliau, lalu beliau berdoa lama sekali kepada Rabbnya. Setelah itu beliau menemui kami lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا

“Aku meminta tiga (hal) pada Rabbku, Ia mengabulkan dua (hal) dan menolakku satu (hal). Aku meminta Rabbku agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan, maka Ia mengabulkannya untukku. Aku meminta-Nya agar tidak membinasakan ummatku dengan banjir, maka Ia mengabulkannya untukku. Dan aku meminta-Nya agar tidak menjadikan kehancuran mereka di antara sesama mereka tapi Ia menolaknya.”

Masalah ini termasuk dari tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu tatkala beliau mengabarkan kejadian yang akan menimpa umat ini berupa perpecahan dan peperangan di antara sesama mereka. Dalam dua hadits di atas nampak jelas bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan takdir bagi akhir umat ini. Allah Ta’ala menetapkan bahwa Islam dan para pemeluknya tidak akan binasa dengan kekeringan dan kelaparan sehingga mereka tidak perlu terlalu khawatir dengan kemiskinan karena itu tidak akan membinasakan mereka. Allah juga menetapkan bahwa Islam dan para pemeluknya tidak akan hilang dari muka bumi akibat banjir bandang seperti kaum Nuh As, karenanya mereka tidak perlu terlalu khawatir akan kehilangan eksistensi di dunia gara-gara bencana alam. Allah Ta’ala juga telah menetapkan bahwa Islam dan kaum muslimin tidak akan pernah dikuasai dan dikalahkan oleh musuh-musuh mereka, walaupun musuh telah mengepung mereka dari berbagai sisi, yang karenanya mereka jangan terlalu memfokuskan perhatian pada musuh-musuh dari luar Islam.

Akan tetapi Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa Islam dan kaum muslimin akan hancur akibat perbuatan kaum muslimin itu sendiri. Mereka sendiri yang menyebarkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sehingga mereka sendiri yang akan saling berperang dan membinasakan.
Mereka ini adalah  akibat meremehkan ilmu batin ( Tasawuf) ,dan menjauhi Para Ahli Tasawuf, tidak mau meneguk mata air dari mereka dan menyelaminya, sehingga hati mereka kering, agama hanya textual saja/dzohir saja,  mereka alim,  tapi bagaikan mayat hidup yang berjalan, sehingga hati mereka  menghantar kepada ke munafikan  tanpa di sadarinya,  saling mencaci, merendahkan melaknat,  memunafikan, dan berkata kotor, tidak ada cinta dan kasih sayang di dalam hatinya di antara sesama, mengucapkan kalimat tauhid, tapi tidak berakhlak kalimat tauhid,   mereka  tampak Alim padahal orang-orang jahil  dalam agama , mereka diperalat oleh hawa nafsunya , dan setan, hatinya sakit,  tapi tak menyadari,  sehingga terjadi perpecahan kaum muslim.

hendaknya kaum muslimin sadar bahwa musuh yang terbesar bagi mereka adalah musuh dari dalam islam itu sendiri dan bukan musuh dari luar , di sebabkan mengabaikan Para Ahli Tasawuf, Musuh terbesar mereka bukanlah orang kafir dan musyrik yang sudah jelas kekafiran dan kesyirikan mereka. Akan tetapi musuh terbesar mereka adalah orang-orang yang hatinya berpenyakit, yang mencoba menyebar racun-racun penyakitnya di tengah-tengah kaum muslimin

SHALAT SUNNAH JABRUL FAWAA'IT [ THARIQAH TIJANIYAH ]

SHALAT SUNNAH JABRUL FAWAA'IT [ THARIQAH TIJANIYAH ]

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum poro guz, ane mau tanya masalah sholat jibrul fawaid ada tidak keterangan dalam kitab ? terimakasih, wassalam. [Ali Mustain].

JAWABAN :

Wa'alaikum Salam. Shalat Jibrul Fawait. Orang-orang Sufi dari Thariqah Tijaniyah menyebutnya "Shalawat Jibrul Fawait / Shalat Jibrul Fawait".

فائدة من كتاب الجامع لابن مشري عن مناقب القطب الرباني والغوث الصمداني مولانا أبى العباس أحمد بن محمدالتجاني رضي الله عنه وعنا به آمين وأسكننا معه دار التهاني ما نصه :-من صلى بين الظهريين يوم الجمعة أربع ركعات كل ركعة منها بفاتحة الكتاب + آية الكرسي مرة + سورة الكوثر (15) مرة فإذا سلم أستغفر عشر مرات وصلى على النبي صلى الله عليه وسلم عشر مرات فإنه يقضي فرائض مائة سنة وقيل خمسمائة عام ومن صلاها ولم تكن عليه فوائت كفرت عن والديه ما كان عليهما من الفوائت.

SHOLAT SUNNAT QODHO FAWAIT

بسم الله الرحمن الرحيم    صلاة قضاء الفوائت
الحمد لله فائدة ومن الجامع لابن مشري عن مناقب القطب الرباني والغوث الصمداني مولانا أبى العباس أحمد بن محمدالتجاني رضي الله عنه وعنا به آمينوأسكننا معه دار التهاني
ما نصه : من صلى بين الظهريين يوم الجمعة أربع ركعات كل ركعة منها بفاتحة الكتاب و آية الكرسي 1× + سورة الكوثر 15× مرة  فإذا سلم أستغفر عشر مرات وصلى على النبي صلى الله عليه وسلم عشر مرات فإنه يقضي فرائض مائة سنة وقيل خمسمائة عام ومن صلاها الفوائت ولم تكن عليه فوائت كفرت عن والديه ما كان عليهما من الفوائت

Telah Bersabda Rasulullah SAW, Barang siapa yang selama hidupnya pernah meninggalkan sholat fardu namun tidak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah qobliyah Ashar di hari Jum’at terakhir di Bulan Rhomadon sebanyak 4 rakaat dengan satu kali Tasyahud akhir lalu Salam, tiap- tiap rakaat membaca surah Al-fatihah1 x, kemudian surah Al-Qodar ( boleh juga ayat Kursi ) 1 x dan surah Al – kautsar 15 x .Inilah Niat sholatnya :

أُصَلِّي سُنَّةَ اْلعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَفَارَةً لِمَا فَاتَنِيْ مِنَ الصَّلاَةِ ِللهِ تَعَالَى

“ Aku niat shalat sunnah Ashar 4 rakaat sebagai kafaroh shalat yang telah terluput lillahi Taa Allaa .”
Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ

“ Aku mohon ampunan kepada Allah SWT yang maha Agung , tidak ada Tuhan kecuali hanya Dia Zat yang maha pemelihara lagi yang maha mengatur dan aku Bertaobat hanya kepada-NYA.”

Kemudian baca sholawat fatih 10 x :

اللَّهُمَّ صَلِّّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ الْفَاتِحِ لِمَا أَُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْـتَـقِيمِ وَعَلَى آلهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

“Ya Allah Limpahkanlah Sholawat kepada penghulu kami Nabi Muhammad SAW, pembuka terhadap segala yang tertutup, penutup segala yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran, petunjuk ke jalan MU yang lurus dan kepada keluargaNya pemilik kadarNya dan kadar yang Agung.”

Kemudian membaca Doa kafaroh 3 x :

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ تَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَاوَلاَ تَضُرُّكَ يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَا وَ إِذَا تَوَعِدُ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِيْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَأَسْأَلُكَ
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ إِلَهِيْ خَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُنْ شَيْئًاً وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُنْشَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ فَإِنْ عَفََوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئاًوَإِنْ عَذَبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شيئاً اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبُهُ غَيْرِي لَكِنِّيْ لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمْنِيْ سِوَاكَ فَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَمَا بَيْنَ خَلْقِكَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِربّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وصل الله على سيّدنا محمّد وعلى ألِهِ وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا والحمد لله ربّ العالمين.أمين

Fadilahnya : Sayidina Abu Bakar Ra. Berkata : saya telah mendengar Rasulullah SAW Bersabda : Sholat Itu sebagai Kafaroh ( Pengganti ) shalat 400 tahun .Dan Menurut Sayyidina Ali Ra. Shalat tersebut sebagai kafaroh shalat 1.000 tahun, maka bertanya para Sahabat Ra. : “ umur manusia itu hanya 60 atau 100 tahun, maka untuk siapakah kelebihannya?,” Rasulullah SAW menjawab : “ untuk kedua Orang tuannya, istrinya, anak anaknya, dan sanak Familynya serta orang – orang di lingkungannya."

Catatan :
Dalam riwayat Syaidatina Fatimah Az-zahrah Ra. tiap dua rakaat masing – masing satu tasyahud dan salam dan membaca do'a ini :

اللهم ياسابق الفوت وياسامع الصوت ويا محيي العظام بعد الموت اللهم صلي على محمد وال محمد واجعل لي من أمري فرجا ومخرجا مما انا فيه انك تقدر وأنالاأقدر وانت تعلم وانا لاأعلم وأنت عليم الغيوب يا واهب العطايا وياغافر الخطاياياسبوح ياقدوس يارب الملائكة والروح رب أغفر وارحم وتجاوز عما تعلم انكانت الاعز والاجل الاكرم وانت العلي الاعظم ياساتر العيوب ياذا الجلال والاكرامبرحمتك ياارحم الراحمين

Sumber :

Zawiyah Nuruz Zholam

Minggu, 06 Januari 2019

Cinta Kepada Allah Menurut Para Sufi

Cinta Kepada Allah Menurut Para Sufi

Harits Al-Muhasibi mengatakan, "Cinta itu rasa kecenderunganmu kepada sesuatu secara total, lalu engkau lebih mementingkan cinta itu daripada dirimu, jiwamu atau hartamu. Kemudian, kesetiaanmu padanya, baik ketika berada di tempat sunyi atau terbuka. Lalu, pada saatnya, ia juga bisa memberitahu kepadamu tentang keteledoran cinta."

Beberapa sufi lain menyebutkan; Cinta juga laksana api dalam hati yang dapat membakar apa saja selain yang dicintai. Cinta itu mencurahkan segala kemampuan, sedangkan kekasih itu boleh berbuat apa saja yang dia mau.

Ahmad An-Nuri mengatakan, "Cinta itu membuka tabir dan membuka semua rahasia."

Junaid Al-Baghdadi menyebutkan "Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya tanpa berharap mendapatkan sesuatu. Cinta itu kegelisahan dalam hati karena rasa jatuh cinta pada kekasih."

Rasulullah Saw bersabda;

"Hubbuka lisyaiin ya'ma wa yashummu." (Cintamu pada sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli) (HR. Ahmad)

JAGALAH LIDAH DAN HATIMU, JANGANLAH SUKA MENCELA DAN MENGHINA

JAGALAH LIDAH DAN HATIMU, JANGANLAH SUKA MENCELA DAN MENGHINA

Berkata Sayyidina Umar bin Abd Aziz : "Kami sempat hidup bersama para salaf, dan tidaklah mereka melihat bahawa ibadah itu adalah pada puasa dan tidak juga pada sholat. Namun ibadah itu adalah menahan diri dari menjatuhkan kehormatan manusia. Kerana orang yang melakukan sholat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang, andai ia tidak menjaga lidahnya maka ia pasti akan celaka di hari kiamat".

Berkata al Imam Ghazali : "Perbuatan mengumpat itu adalah petir yang memusnahkan perbuatan-perbuatan yang taat. Orang yg mengumpat itu tak ubah seperti orang yang memasang 'manjanik' (alat pelontar ketika perang), lalu dilontarnya kebaikan-kebaikan yang ia buat ke timur dan barat, ke kiri dan ke kanan".

Berkata as Syirazi : Aku telah berjaga malam bersama ayahku, dan orang2 sekeliling kami semuanya tidur. Lalu aku berkata: "Tidaklah dari mereka ini yg bangun walau untuk solat 2 rakaat!".  Lalu ayahku berkata : "Kalau kamu tidur adalah lebih baik dari terjerumusnya kamu di dalam menghina manusia".

Ketahuilah boleh jadi kamu dalam kalangan orang-orang yang sholat bahkan sangat khusyu di dalam sholatmu, namun apabila datang di hari akhirat kamu adalah seorang yg kosong tidak punya apa-apa.

Boleh jadi kamu pernah menginfaq separuh dari harta yg kamu miliki, bahkan melakukan lebih dari itu, namun apabila datang di hari akhirat kamu adalah seorang yang kosong tidak memiliki apa-apa.

Boleh jadi kamu adalah orang-orang yg sentiasa berpuasa di siang hari, menghidupkan malam hari, dan berjuang/berjihad menegak agama di sepanjang hidupmu dengan penuh keikhlasan, namun apabila datang di hari akhirat kamu adalah seorang yang kosong seakan-akan tidak pernah berbuat apa-apa kebaikan !

Sebenarnya perkara ini, banyak dari kita sudah mengetahuinya. Namun sebahagian dari kita, tak kira orang biasa atau pemimpin atau ahli politik, atau lebih-lebih lagi para ustadz ustadz yang lebih tahu hukum hukum agama, masih banyak lagi yang gemar mengotorkan bibir-bibir mereka dengan kata-kata buruk & penghinaan, merendahkan, mencaci, membuka aib, walaupun atas tujuan untuk memberi teguran & nasihat. Yakni seakan2 tidak pernah takut & terkesan dengan kesudahan buruk yg bakal menanti orang-orang yang gemar berkata-kata dengan kalam buruk untuk memperendahkan orang lain, menghina orang lain, membunuh karakter orang lain, menikam kehormatan orang lain, dan seumpamanya.

Wahai umat Islam:

Ketika mana kamu melihat manusia manusia pendosa, janganlah sesekali kamu merasa kamu adalah lebih mulia dari mereka.

Ketahuilah olehmu bahawa diri mereka itu sebenarnya adalah sedang di uji, dan kamu pula telah terselamat kan kerana kasih & rahmat Allah padamu.

Maka janganlah kamu lupa mendoakan ke atas mereka supaya diberikan hidayah, dan ke atas dirimu juga supaya kekal diberikan keteguhan.

Janganlah pula kamu mendoakan mereka dengan keburukan, terlebih melaknat, Mungkin kamu menyangka tidak pernah berbuat demikian. Namun kalimat-kalimat yang keji yg sering dilontarkan kpd mereka yg senantiasa menempel di bibirmu itu, sebenarnya adalah satu doa juga yg secara tidak sadar bukan saja semakin menghitamkan hati mereka, bahkan semakin menghitamkan hatimu juga.

Sebagaimana  disabdakan oleh Nabi saw dalam sebuah hadis Qudsi; "Wahai manusia! Sebagaimana engkau menyakiti, engkau akan disakiti. Sebagaimana engkau berbuat, engkau akan diperlakukan”

Rasulullah saw juga  bersabda: “siapa yang menghina seseorang karena dosa yang pernah dilakukannya, maka ia tidak akan mati sebelum melakukan dosa tersebut.”

(HR. Tirmizi).

Bencilah sikap & kejahatannya. Dan janganlah benci diri & zatnya. Karena seburuk-buruk seorang muslim itu sekalipun, di dalam dirinya masih ada sesuatu yg sangat bernilai & amat berharga, iaitu kalimah 'Lailahaillah Muhammad Rasulullah'.

Kamis, 03 Januari 2019

KEUTAMAAN MASUK THORIQOH

KEUTAMAAN MASUK THORIQOH

Samahatul Imam Imam Sholahuddin At Tijani Al Hasani Ra Berkata ;

Apabila kamu tidak  masuk pada suatu Thoriqoh, maka semua amalmu akan di naekan kepada Allah swt sesuai kemampun mu

Sedangkan jika kamu mencintai seorang syekh (wali Allah)  yang memiliki keagunan nan kemulyaan disi Allah Swt, maka semua amalmu kelak di angkat sesuai dengan ke agungan orang yang kau cintai itu.

Kelak pada hari kiamat engkau akan dikumpulkan dengan derajat  orang (wali Allah) yang engkau cintai itu.

Rasulullah Saw pernah bersabda :

Seseorang itu kelak akan bersama orang yang kau di cintai nya."

Maksudnya, Jadikan semua amalan  yang engkau lakukan sebagai perwakilan dari amalan nya  (waliyullah) sayyidi syekh ini.

Syekh Umar Al Futi Dalam Kitab Ar Rimah nya berkata :

الشيخ الواصل حبل اللّٰه في أرضه  فكن تعلق به وصل
واما غير الواصل فمن تعلق به انقطع

Syekh Washil adalah ibarat Tali Allah di bumi,  barang siapa bergantung kepadanya, niscaya akan wasil juga.

Adapun Syekh yg tidak Washil, siapa yg bergantung kepadanya akan terputus.

Syekh Umar Al Futi RA (dalam Kitab Ar Rimah)

Dalam Di Dalam Kitab Bughyatul Mustafid Di katakan

ﻭﺭﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻮﺍﺭﻑ ﺃﻳﻀﺎ ﺑﺴﻨﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺳﺘﺎﺫ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻟﻘﺸﻴﺮﻱ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﻌﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻄﻤﺴﺘﺎﻧﻲ ﻳﻘﻮﻝ : " ﺍﺻﺤﺒﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻄﻴﻘﻮﺍ ﻓﺎﺻﺤﺒﻮﺍ ﻣﻊ ﻣﻦ ﻳﺼﺤﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﻮﺻﻠﻜﻢ ﺑﺮﻛﺔ ﺻﺤﺒﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺻﺤﺒﺔ ﺍﻟﻠﻪ ".

"Bersamalah Dengan Allah, Jikalau Belum Mampu Maka Bersamalah Dengan Orang Yang Senantiasa Bersama Dengan Allah, Agar Keberkahan Bersamannya Mengantarkanmu Bisa Bersama Dengan Allah".