TAUHID
Allah Berbeda dengan Makhluk dan Mandiri
Pertanyaan:
Dalam konsep teologi suni, diantaranya disebutkan bahwa Allah SWT itu memiliki sifat Mukhalafah Lil Hawadits (Berbeda dengan Makhluk).
Padahal Allah SWT memiliki sejumlah kesamaan dengan makhluk-Nya, seperti misalnya Allah SWT dan makhluk-Nya sama-sama memiliki sifat wujud?
Lalu, bagaimana pula dengan nash Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah istiwa' (bersemayam) di Arasy' atau yadul-Lah (Tangan Allah). Apa dengan demikian, Allah SWT tidak memiliki keserupaan dengan makhluk?
Jawaban:
Al-faqir ingin membahas tentang sifat-sifat wajibnya Allah yang masih banyak menimbulkan tanda tanya.
Diantara sifat-sifat itu adalah Mukhalafah Lil Hawadits (berbeda dengan makhluk) Artinya, Allah wajib berlainan (tidak sama/tidak menyamai/ tidak menyerupai) dengan Hawadits(hal yang baru/ makhluk)
Sifat Mukhalafah lil Hawadits ini perlu dibahas lagi sebagai berikut:
Pertama, Hawadits itu mempunyai dua jihhah ( arah/segi). Jihhah yang pertama, keberadaan (wujud) Hawadits didahului oleh tidak ada ('adam).
Jihhah yang kedua, Hawadits itu punya sifat Imkan (Berkemungkinan). Artinya, ketika Hawadits itu ada (wujud), mungkin keberadaannya (wujudnya) Masih akan terus dan mungkin juga akan selesai diganti oleh tidak ada ('adam).
Begitu juga sebaliknya, ketika sesuatu itu tidak ada ('adam), mungkin ketidak-adaannya akan terus dan mungkin juga selesai dan diganti oleh wujud.
Maka dengan adanya Jihhah yang kedua ini, bisa dimengerti bahwa Allah SWT mukhalafah Lil hawadits dari segi imkan-nya. Artinya, Allah mukhalafah dengan hawadits, sebab wujud-Nya Allah adalah wajib dzati yang mustahil bisa diubah menjadi 'adam, baik 'adam sabiq lil-wujud (tidak ada kemudian ada) atau 'adam lahiq lil-wujud (tidak ada yang didahului ada/ada kemudian tidak ada).
Berbeda dengan hawadits yang wujudnya bersifat mungkin. Dengan kata lain, bisa berubah menjadi 'adam kapan saja menurut masyi'atilLah (kehendak Allah SWT).
Dengan demikian, maka Allah SWT wajib bersifat Mukhalafah Lil Hawadits min jihhati imkaniha
Kedua, kalau pertanyaan ini dijawab bahwa Allah SWT mukhalafah pada 'adamnya, maka tidak benar. Sebab mukhalafah itu bisa terjadi bila keduanya sama-sama wujud. Artinya, tidak ada mukhalafah (pertentangan) ada dua perkara yang tidak sama-sama wujud. Seperti dua perkara yang satunya wujud yang satunya lagi 'adam, karena keduanya mutadhadatani (saling bertentangan).
Selanjutnya adalah sifat Qiyamuhu Binafsihi (mandiri). Artinya, Allah SWT wajib berdiri sendiri, tidak butuh pada tempat dan mukhashshish/fa'il (yang menjadikan).
Perlu diketahui bahwa:
1. Sesuatu itu ada Yang Maha Kaya, yakni tidak butuh pada tempat juga tidak butuh pada fa'il (yang menjadikan), yaitu Dzat Allah SWT.
2. Ada yang butuh pada tempat dan fa'il seperti bumi, manusia, dan lain-lain; dan
3. Ada sesuatu yang butuh pada fa'il tapi tidak butuh pada tempat seperti akal, ruh, dan jauharul-fardhi.
Jadi, seperti akal dan ruh itu punya sifat qiyamuhu binafsihi tapi hanya dalam arti tidak butuh pada tempat.
Artinya tidak sama dengan sifat Qiyamuhu Binafsihi yang menjadi sifat wajibnya Allah SWT, karena yang dimaksud Allah SWT wajib bersifatan dengan Qiyamuhu Binafsihi adalah Allah SWT tidak butuh kepada Dzat yang lain sebagai tempat, juga tidak butuh kepada fa'il yang menjadikan. Bahkan Allah-lah yang menjadikan.
Dari uraian diatas bisa dimengerti, bahwa ayat-ayat Alquran al-karim yang zahir-nya memberi sangkaan bahwa Allah SWT bertempat/ mengambil tempat, harus ditakwil, seperti firman Allah SWT Ar-rahman 'alal-'arsy istawa (Allah 'bersemayam' di atas Arsy). Maka kata "istawa" ('bersemayam') ditakwil dengan "istawla" (menguasai). Artinya, Allah SWT menguasai Arsy, karena di antara makna "istawa" adalah "istawla".
(Zawiyah Nuruz Zholam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar